Setiap pekan, Asrama Sekolah Pesat menghidupkan tradisi makan bersama yang melibatkan seluruh santri dan para musyrif. Duduk berkelompok mengelilingi hidangan, mereka menyantap makanan dalam suasana hangat yang mempererat rasa kekeluargaan di antara penghuni asrama.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan mengisi perut, melainkan sarana menanamkan adab makan sesuai tuntunan, seperti membaca doa, makan dengan tangan kanan, mengambil secukupnya, dan mensyukuri rezeki yang ada. Kebersamaan di meja makan menumbuhkan kebersamaan yang tulus.
Kehangatan yang Menumbuhkan Kekeluargaan
Momen makan bersama menjadi ruang interaksi yang cair antara santri dan pembina. Di luar suasana belajar yang formal, mereka berbincang santai, saling bercanda, dan berbagi cerita. Inilah saat di mana sekat antara santri dan musyrif mencair menjadi ikatan layaknya keluarga.
Dari satu nampan yang dimakan bersama, tumbuh rasa persaudaraan yang kuat. Santri belajar berbagi dan merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar asrama, ujar salah satu musyrif.
Bagi santri yang jauh dari keluarga, tradisi ini menjadi pengobat rindu sekaligus penguat semangat. Suasana kekeluargaan yang terbangun diharapkan membuat mereka betah dan merasa memiliki rumah kedua selama menjalani pendidikan di asrama.